Pages

Kalimat Yang Sayah Suka....

The world will keep on moving, and i'll keep on standing...

Rabu, Juli 21

Jaket keramat...

Ada beberapa hal yang mau gue tulis di sini...

1. Gue lulus PTN

Hal yang membahagiakan menurut gue. Ketika gue, buka internet, masukin nomor ujian, trus keluar nama gue beserta jurusan yang gue lulusin.

Simply... 12 tahun pendidikan formal gue selesai.

Gue lulus Unsri, Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen.

Gue pertama divonis lulus, ada 2 hal yang gue pikirin. 1) seneng abiz 2) MAMPUS. Prospeknya ke mana entar?

Waktu gue milih jurusan, gue milih ipc, butuh waktu 1 jam lebih cuma buat nentuin 3 jurusan. Gue bingung setengah gila. Bingung karena ga tau milih apa, dan gila karena bawa'annya.

Gue pernah berniat untuk jadi dokter wktu kecil, tapi setelah gue sering nonton berita tentang kasus malpraktek. Gue urungin niat tersebut. Gue takut jadi dokter malpraktek ntar. Ga lucu aja ntar gue ngoperasi orang, tangannya pindah ke kaki, telinga pindah ke ubun-ubun. Freak.

Gue juga pengen jadi arsitek dulu. Bangun rumah orang. Buat rumah paling unik. Buat tuh se-keluarga yang huni tu rumah bahagia. Tapi, setelah gue dewasa, gue sadar, gue bukan kuli yang baik. Seandainya gue bangun rumah, gue ga bisa bayangin, dalam waktu lima menit tuh rumah bakal roboh.

Gue inget waktu SD mau bikin pondok.

Gue siapin kayu dan peralatanya....

5 jam kemudian.

Gue nyerah.

Ternyata tak ada bakat gue di situ.

Akhirnya gue pun memilih 3 jurusan untuk PTN...

  1. Teknik Pertambangan-UNSRI
  2. Manajemen-UNSRI
  3. Pend. Sastra B.Indo-UNSRI

Dan gue akhirnya lulus di pilihan ke- 2, tanpa tau tujuannya kemana. MANTAP.

2. Gue dapet jaket kuning.

UNSRI punya jaket ato almamater kuning.

2 hari yang lalu gue dateng, registrasi ulang dan dapet tuh jaket.

Mungkin elu pikir ni mudah, sebenernya dari proses Pra-PTN, PTN, Pasca PTN, susahnya minta ampun.

Ini lebih susah dari yang elu bayangin. Lebih susah nembak Gita Gutawa. ARRRGGGHHH!!!

Maka dari itu, pada masa 'Pra-PTN', gue lebih nyiapin diri dengan : bahas soal, tidur, maen kartu, makan, dan tidak lupa berdoa.

Elu pasti mikir kenapa gue maen kartu, alasanya simpel aja. HIBURAN.

Setelah gue rasa belum siap, ujian pun di mulai.

2 hari itu gue pasrah, dan berpikir masuk swasta aja. Penting gue kuliah. Ga nganggur ato ngamen di lampu merah bawa kicik-an. Bukan gue banget dueh?!!?

Tapi, gue bersyukur tuhan ngerti gue, meskipun gue sering mikir dan ngomong jorok, seperti sampah, debu dll. Gue juga sempet bingung waktu dinyatain lulus. 2 tahun jurusan ipa bisa lulus di mata kuliah ips. Gue coba tampar diri gue dengan keras, masih ga percaya. Gue tabrak kepala gue ke dinding, masih belum cukup. Gue nyoba menutup mulut gue untuk ngecek bau mulut, gue koma 1 minggu.

Thank's god...

Orangtua gue seneng saat gue umumin kalo gue lulus,dan gue cuma senyum doang. Di balik senyum gue, gue berpikir perjuangan gue belum berakhir. Masih ada tembok se-gede HULK. Dan cita-cita gue belum tercapai: bisa ngapung di kolam renang (cetek banget cita-cita gue).

Kata mas Henry Ford (1863 1947, pelopor industri otomotif AS)...
"Hidup merupakan satu seri pengalaman, setiap pengalaman akan membuat kita menjadi lebih besar, meskipun kadang-kadang sulit untuk merealisasikan."

Ini serpihan pengalaman berharga gue. Berharga. Berharga banget. Elu beli 1 M pun gue ga bakal jual, kalo 2 M gue masih mikir... Intinya berharga.

"...For what it's worth
For what it's worth
For what it's worth
For what it's worth...."

(The Cardigans-For what it's worth)

Then...

Gue pernah bermimpi kuliah di UI dan UGM. Tapi gue gagal. Cukup di sini gue bersyukur. Karena ini pengalaman gue. Terbaik dari tuhan.

Dan, gue bersyukur bisa menjadi pecahan tersebut, meskipun malemnya, abis pakek tuh jaket gue demem,,, DEMEM. SERIOUSLY. Beneran. Gue ga bohong. Sumpret.

Asumsi gue saat itu, tuh jaket kuning, keramat. KERAMAT BANGET....

Malam gue sakit...

'Pakek sajen apaan nih buat ngilangin kutukan tuh jaket kuning...?' pikir gue dalam hati.

PS : celana dalem GTman = sempak termahal (Windra)

Jumat, Juli 9

Coklat ...

"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."(Forrest Gump)

Gw selalu berpikir, hidup ne bener-bener kayak coklat dalam kotak. Kita tidak pernah tau apa yang bakal kita dapet....

Contoh...

Lu pengen coklat rasa stroberi di dalemnya. Tapi pas lu ambil tuh coklat dalam kotak coklat, yang lu dapet rasa jeruk (catet: rasa bisa berubah-rubah tergantung selera).

Meskipun kita berharap untuk dapetin rasa itu... Rasa yang kita harepin...

Ini sama halnya kayak lu mau masuk kuliah, lu maunya masuk di universitas A, tapi tiba-tiba lu masuk universitas B. Malahan ada yang langsung kerja ato nikah. Fantastis.

Contoh lain ada di film "FORREST GUMP"...

Meskipun gw belum nonton nih film, gw udah nangkep sinopsisnya.

Perjuangan luar dari biasa dari si Forrest untuk menjalani hidup, meskipun mengalami disintegritas dalam berpikir.

Pada waktu sekolah, Forrest bertemu Jenny. Gadis yang tak beruntung tersebut dijatuh cintai olehnya. Tapi Forrest tau dia mempunyai kekurangan... Dia pun mengabaikan perasaannya pada Jenny.

Forrest pun ikut militer...

Dan semuanya Moving Forward...

Ibunya (Nya= Forrest) selalu bilang, "Life's a box of chocolates, Forrest. You never know what you're gonna get. " kata-kata tersebut selalu diingat olehnya.

Hingga dia bertemu Jenny... Dan melamarnya...

Forrest Gump: Will you marry me?
[Jenny turns and looks at him]

Forrest Gump: I'd make a good husband, Jenny.

Jenny Curran: You would, Forrest.

Forrest Gump: ...But you won't marry me.

Jenny Curran: [sadly] ... You don't wanna marry me.

Forrest Gump: Why don't you love me, Jenny?
[Jenny says nothing]

Forrest Gump: I'm not a smart man... but I know what love is.

(Dialog yang gw caplok dari web lain)


Ditolak... Kasian banget nih orang, udah bego ditolak pula... H.hu

Singkat cerita, Forrest berlari keliling-keliling (baca: lari-lari)... Dan menjadi terkenal... Bombastis nih orang.

Lalu, Forrest menunjukkan bahwa ia sedang menunggu di halte bus karena ia menerima surat dari Jenny, yang setelah melihatnya berjalan di televisi, memintanya untuk mengunjunginya.

Ternyata Jenny telah mempunyai anak. Dan dia mengidap penyakit pandemik (such as: flu burung, HIV, Aids. dll)

Meskipun begitu, akhirnya mereka menikah...

Jenny pun meninggal karena penyakitnya...

So...

Tuhan punya rencana tersendiri buat gw dan lu. Meskpun awalnya ga bagus banget bagi kita, tapi akan selalu jadi hal yang manis nantinya...

Kayak si mas Forrest, dia selalu inget kata ibunya, dan dia yakin apa yang dia jalani.

Tuhan punya rencana masing-masing buat kita. . .

"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."

Meskipun coklat yang kita dapet beda rasa. Itu teteplah coklat.

Meskipun begitu...

Rasa yang kita inginkan tetap kita rasa...

Tapi kita tidak tahu cara menempatkannya...

PS : Sori sinopsisnya ancur....

Rabu, Juni 30

Kisah si Dion dan Dian ...

Saya punya temen bernama Dion (nama disamarkan), kami satu kelas di tempat bimbel MADANI (ga ada unsur promosi).

Dion menyukai cewek yang bernama Dian (sori yang mikir saya ga kreatif ngasih nama... H.hu) di kelas yang sama. Dion selalu bercerita kalo dia suka sama tuh cewek, karena tuh cewek sesuai dengan tipenya. Dion lumayan putih, lumayan pinter, dan lumayan cocok buat digampar kalo nyolong sendal. Dan cewek yang disukai Dion, agak kasual, sedikit kesan tomboy, dengan sepatu kets ditambah kemeja panjang lipet lengan. Sosok yang dia aplikasikan pada Dian yang berambut agak panjang.

"Mon, Dian di belakang!" bisik Dion.
"Mana?"
"Itu...."
".... Oh"
"Sesuai dengan tipe aku Mon...."
"Asli,Ion..."

Setiap pertemuan di bimbel Dion selalu ngomong gitu. Dion berencana buat mendekatinya : KENALAN. Masalahnya, Dion grogi. GROGI. Hanya dengan Dian, Dion tak mampu berkenalan. Padahal dengan cewek lain, Dion siap jadi tumbal buat disodorin dengan cewek. Hihihihi...

Tak ada keberanian inilah yang membuat Dion mengulur waktu buat berkenalan, dan jatah bimbel pun berkurang hanya untuk sekedar berkenalan dengan Dian.... Minggu demi minggu berlalu sia-sia....

Suatu pagi... Dion sms.

Dion: Mon, Dian ad cwok...
Saya: Tw dr mna?
Dion: FB
Saya: Udah dichek?
Dion: Udh, emang bneran FB Dian.
Saya: Sabaar.

Dion shock... Dion tahan puasa nasi rendang (karena tuh makanan ngajak miskin) gara-gara hal ini.

Tapi saya pun menyaranin Dion buat kenalan dulu sebelum tuh anak nyesel tujuh turunan di hari pelepasan bimbel.

Hari Sabtu... Motivasi & Pelepasan Bimbel.

Saya datang sedikit terlambat. Dion sudah datang lebih dulu.

"Udah dateng?" tanya saya.
"Belum...." Dion tertunduk lesu.
"..."

Acara pun dimulai... Dan selesai... Dian tidak datang... Dion SEDIKIT menikmati acara.

Dion nyesel ga kenalan pada awal-awal bimbel. Dion nyesel nggak sedikit lebih berani kayak supermen. Dion mencoba untuk nerima keadaan dan berharap bertemu lagi dengan Dian. Dion mulai berubah menjadi petapa bijaksana sejak saat itu.

Ujian STAN. Beberapa menit sebelum ujian.

"Ion, ada Dian di sini..."
"di mana?"
"Kelas sebelah..."
"Iya ya...."

Dion pun mengamati dari luar kelas, memperhatikan wajahnya Dian ketika tau mereka di lokasi yang sama dan dibatasi oleh dinding kelas.


Seperti dua orang yang ingin bertemu, tetapi tidak tahu di mana satu sama lain, padahal hanya dipisahkan oleh sebongkah dinding. Laki-laki menunggu di satu sisi dinding, dan wanita di satu dinding sebaliknya... (Hiks... terharu najis bawang.)

Masalahnya Dian tidak menunggu Dion, tapi Dion lah yang menunggu kesempatan itu tiba.

Dion sadar tak mungkin dia berkenalan. Karena situasi tak memungkinkan, ditambah Dian sudah punya pacar. Dan hari itu pun dia lewati seperti biasa sebagai orang yang jatuh cinta secara diam-diam.

Semua orang pernah mengalami ini. Semua orang yang mengalami hanya bisa melihat dari kejauhan dan cukup berdoa untuk keadaannya. Dan Dion pun hanya bisa merelakan....

Salut buat Dion dan yang ngerasain.

PS : Sori ga ijin dengan yang bersangkutan.... Takut langsung dibacok.... Hehehe...